Zona Ponti

Artificial Intelligence dan Disrupsi Industri Komunikasi: Mahasiswa Didorong Adaptif dan Kritis

Kegiatan KBP HIMAKOM menjadi ruang belajar mahasiswa untuk memahami perkembangan teknologi komunikasi dan pentingnya etika di era AI. (*istimewa)

WWW.ZONAPONTI.COM, PONTIANAK – Mahasiswa dari berbagai program studi memadati aula Rumah Dinas Wakil Wali Kota Pontianak saat Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMAKOM) menggelar Kuliah Bareng Praktisi (KBP), Selasa (12/5/2026). Kegiatan yang telah berlangsung lebih dari satu dekade ini kembali menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk memahami perkembangan dunia komunikasi, jurnalistik, dan kehumasan di tengah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI).

Sebanyak 133 peserta mengikuti kegiatan sejak pagi hingga siang hari. Antusiasme mahasiswa terlihat dari tingginya partisipasi dalam sesi diskusi hingga studi kasus interaktif. KBP tahun ini mendapat dukungan penuh dari Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, sebagai bentuk dorongan agar generasi muda mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi tanpa meninggalkan etika profesi.

Pembukaan kegiatan dilakukan oleh dosen Ilmu Komunikasi, Suci Lukitowati, yang mewakili Koordinator Program Studi Ilmu Komunikasi. Dalam sambutannya, ia menilai KBP telah menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran mahasiswa karena mampu menghadirkan pengalaman nyata dari dunia kerja. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya membutuhkan teori di ruang kelas, tetapi juga pemahaman tentang tantangan yang benar-benar terjadi di lapangan.

Pada kegiatan tersebut, mahasiswa mendapatkan materi langsung dari dua praktisi berpengalaman di bidang jurnalistik dan public relations. Narasumber pertama, Rendra Oxtora, membawakan materi tentang perkembangan dunia jurnalistik di era Artificial Intelligence (AI). Ia menjelaskan bagaimana ruang redaksi berkembang dari penggunaan mesin tik hingga teknologi berbasis algoritma dan kecerdasan buatan. Menurutnya, dahulu jurnalis harus bekerja sepanjang hari untuk mengumpulkan informasi, mengetik berita secara manual, hingga mendistribusikan informasi kepada masyarakat. Kini, proses tersebut berubah drastis karena teknologi digital memungkinkan wartawan bekerja hanya melalui satu perangkat telepon genggam.

Rendra juga menjelaskan bahwa AI mulai dimanfaatkan dalam dunia jurnalistik untuk membantu proses otomatisasi kerja, pencarian data, hingga pembuatan konten secara lebih cepat dan efisien. Salah satu contoh yang ia gunakan adalah teknologi sound to script untuk mengubah hasil wawancara berbentuk audio menjadi teks. Namun, ia mengingatkan mahasiswa agar tidak menggunakan AI secara mentah tanpa proses verifikasi. Menurutnya, etika jurnalistik tetap menjadi fondasi utama dalam menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak memiliki itikad buruk. Ia juga menyoroti tantangan penggunaan AI, seperti ancaman bias informasi, penyebaran hoaks di media sosial, hingga risiko menurunnya kemampuan berpikir kritis akibat ketergantungan teknologi.

Sementara itu, narasumber kedua, Mentarie Resthu Putri, membahas transformasi komunikasi publik dan dunia kehumasan di era digital. Praktisi yang juga berpengalaman sebagai content creator, desainer grafis, dan video editor tersebut menjelaskan bahwa pola komunikasi public relations kini berubah sangat cepat. Jika sebelumnya humas lebih fokus pada komunikasi satu arah melalui media massa, kini praktisi PR harus mampu berinteraksi secara cepat, responsif, dan berbasis data.

Dalam pemaparannya, Mentarie menjelaskan bahwa AI dapat dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan kehumasan seperti memantau opini publik, mengolah data, menyusun ide konten, membuat caption, hingga meningkatkan pelayanan informasi kepada masyarakat. Ia juga memperkenalkan penggunaan platform AI seperti ChatGPT dan Gemini sebagai alat bantu brainstorming dan pengembangan konten komunikasi. Meski demikian, ia menegaskan bahwa hasil karya yang dibuat dengan bantuan AI tetap harus dapat dipertanggungjawabkan oleh penggunanya.

Selain membahas manfaat AI, Mentarie juga mengingatkan peserta tentang berbagai tantangan penggunaan teknologi tersebut, mulai dari penyebaran disinformasi, ancaman terhadap privasi data, bias algoritma, hingga kemungkinan berkurangnya sentuhan manusia dalam komunikasi publik. Karena itu, menurutnya, penggunaan AI harus berjalan seiring dengan etika, transparansi, akuntabilitas, dan perlindungan data pribadi. Ia menutup materinya dengan menegaskan bahwa teknologi dapat mempercepat komunikasi, tetapi kepercayaan tetap dibangun oleh manusia.

Suasana kegiatan semakin hidup saat peserta mengikuti sesi games dan studi kasus interaktif. Dalam sesi itu, mahasiswa diminta membuat berita dan press release dengan memanfaatkan AI sebagai alat bantu. Kegiatan tersebut menjadi latihan langsung bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta kemampuan memecahkan persoalan komunikasi di era digital.

Salah satu peserta, Esra, mengaku kegiatan tersebut memberinya banyak wawasan baru tentang penggunaan AI secara bijak. Menurutnya, AI memang dapat membantu pekerjaan menjadi lebih cepat, tetapi kemampuan manusia tetap menjadi hal utama dalam menghasilkan karya yang berkualitas dan bertanggung jawab. Ia juga menilai sesi studi kasus menjadi bagian paling menarik karena peserta dapat merasakan langsung tantangan dunia jurnalistik dan kehumasan modern.

Melalui kegiatan Kuliah Bareng Praktisi ini, mahasiswa diharapkan semakin siap menghadapi perkembangan industri komunikasi yang terus berubah. Selain memahami teknologi, mahasiswa juga diajak untuk tetap menjunjung etika, tanggung jawab profesional, serta membangun komunikasi yang cerdas dan bermakna bagi masyarakat. (*istimewa)

Temukan Berita terbaru kami di Zona Ponti

Website Kami

Iklan