Angkutan Umum Pontianak Ditargetkan Beroperasi Mei 2027, Dua Koridor Disiapkan
WWW.ZONAPONTI.COM, PONTIANAK – Warga Kota Pontianak ditargetkan memiliki alternatif transportasi publik yang lebih nyaman, aman, dan mudah dijangkau mulai Mei 2027. Melalui program Buy The Service (BTS) dari Kementerian Perhubungan, layanan angkutan umum perkotaan direncanakan mulai beroperasi dengan dua koridor sebagai tahap awal.
Kehadiran layanan ini diharapkan dapat membantu masyarakat menjalankan aktivitas sehari-hari sekaligus menjadi pilihan untuk mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi di tengah pertumbuhan jumlah kendaraan dan kepadatan lalu lintas.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, keberhasilan transportasi publik tidak hanya ditentukan oleh tersedianya armada, tetapi juga kualitas pelayanan yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Jadwal yang teratur, akses yang mudah, serta kenyamanan dan keselamatan penumpang menjadi faktor penting agar warga tertarik beralih menggunakan angkutan umum.
“Kita memahami masyarakat sudah terbiasa menggunakan kendaraan pribadi karena lebih praktis. Karena itu, angkutan umum yang kita hadirkan harus memberikan pelayanan yang baik, sehingga masyarakat punya alternatif untuk menunjang mobilitas sehari-hari,” ujarnya usai koordinasi persiapan Program Teman Bus dengan skema BTS di Kantor Wali Kota Pontianak, Kamis (29/10/2026).
Menurut Edi, kemudahan akses menuju halte dan titik pemberhentian perlu menjadi perhatian dalam persiapan layanan. Fasilitas pendukung juga harus terhubung dengan pusat aktivitas masyarakat agar perjalanan menggunakan angkutan umum menjadi lebih praktis.
“Transportasi umum harus terintegrasi dengan aktivitas masyarakat. Titik pemberhentian harus mudah dijangkau dan fasilitasnya mendukung kenyamanan penumpang. Ini yang perlu kita persiapkan bersama agar layanan bisa berjalan dengan baik,” tuturnya.

Selain menyiapkan sarana dan prasarana, pemerintah juga perlu memastikan layanan dapat terus berjalan dalam jangka panjang. Edi menjelaskan, program BTS direncanakan mendapat dukungan Kementerian Perhubungan selama tiga tahun pertama sebelum pengelolaannya diserahterimakan kepada Pemerintah Kota Pontianak.
Karena itu, kesiapan sumber daya manusia, pembiayaan operasional, dan pemeliharaan standar pelayanan perlu diperhitungkan sejak awal agar masyarakat dapat menikmati layanan secara berkelanjutan.
“Program ini harus kita persiapkan secara matang agar manfaatnya bisa dirasakan masyarakat dalam jangka panjang. Kita perlu memastikan layanan berjalan baik, kebutuhan operasional diperhitungkan, dan pengelolaannya dapat berkelanjutan,” kata Edi.
Edi juga menyoroti kondisi jalan di Pontianak yang relatif terbatas dengan tingkat kepadatan lalu lintas yang cukup tinggi. Menurutnya, pengoperasian bus umum perlu disertai pengaturan yang tepat agar layanan baru tersebut dapat mendukung mobilitas warga tanpa mengabaikan kelancaran lalu lintas.
Ia berharap masyarakat semakin terbuka untuk menggunakan transportasi publik sebagai salah satu pilihan perjalanan sehari-hari. Pemerintah juga akan melakukan sosialisasi dan evaluasi setelah layanan berjalan untuk mengetahui efektivitas program serta kebutuhan perbaikannya.
“Kondisi jalan kita tidak terlalu lebar dan kepadatannya tinggi. Ini tentu perlu menjadi perhatian karena kehadiran bus umum juga akan berdampak terhadap kelancaran lalu lintas. Kita harapkan masyarakat bisa beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum sehingga kepadatan dapat berkurang. Nanti kita evaluasi dan terus melakukan perbaikan,” ujarnya.
Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Kalimantan Barat, I Ketut Suhartana, menjelaskan bahwa pemerintah telah menetapkan tiga trayek untuk pengembangan layanan tersebut. Namun, pada tahap awal, uji coba akan difokuskan pada dua koridor.
Koridor pertama melayani rute Rusunawa Harapan Jaya menuju RSUD dr. Soedarso dengan panjang sekitar 21,04 kilometer. Sebanyak delapan armada disiapkan untuk rute ini, terdiri atas tujuh bus operasional dan satu bus cadangan.
Sementara itu, koridor kedua menggunakan pola melingkar atau looping, dengan rute TPI Nipah Kuning menuju Sungai Raya Dalam sepanjang sekitar 34,52 kilometer. Koridor ini membutuhkan 11 armada, terdiri atas 10 bus operasional dan satu bus cadangan.
“Dari tiga trayek yang telah diputuskan, pada tahap awal ini kami akan melaksanakan uji coba pada dua trayek terlebih dahulu,” ujar Suhartana.
Ia menerangkan, BTS merupakan skema pembelian layanan oleh pemerintah kepada operator dengan mengacu pada Standar Pelayanan Minimal (SPM). Standar tersebut mencakup keselamatan, keamanan, kenyamanan, keteraturan, keterjangkauan, dan kesetaraan.
Dengan penerapan standar tersebut, masyarakat diharapkan memperoleh layanan transportasi yang lebih terukur dan memiliki kualitas pelayanan yang jelas.
Operasional kedua koridor ditargetkan berjalan penuh saat peluncuran pada Mei 2027. Pada masa pengenalan, pemerintah juga merencanakan layanan tanpa tarif agar masyarakat dapat mencoba dan mengenal kembali angkutan umum perkotaan.
“Pada saat peluncuran nanti, operasional sudah berjalan penuh sekaligus menjadi masa percobaan dan sosialisasi kepada masyarakat. Kemungkinan masyarakat tidak dipungut bayaran selama masa pengenalan ini,” jelasnya.
Untuk menunjang keselamatan dan pengawasan, armada direncanakan dilengkapi kamera pengawas atau CCTV, GPS, sistem pemantauan perilaku pengemudi, serta perangkat pembayaran elektronik Tap on Bus. PT Surveyor Indonesia akan membantu pengelolaan dan verifikasi kinerja operator berdasarkan standar pelayanan yang telah ditetapkan.
Suhartana menambahkan, program BTS dirancang berjalan selama tiga tahun pertama di bawah pengelolaan Kementerian Perhubungan. Setelah periode tersebut, pengelolaan direncanakan diserahterimakan kepada Pemerintah Kota Pontianak agar layanan dapat dilanjutkan secara mandiri.
“Karena itu, kesiapan pemerintah daerah, termasuk dari sisi infrastruktur dan pengelolaan operasional, menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan layanan,” tutupnya.
Melalui rencana pengoperasian dua koridor ini, masyarakat Pontianak diharapkan memiliki pilihan perjalanan yang semakin beragam. Kemudahan akses, ketepatan jadwal, kenyamanan, dan keberlanjutan layanan akan menjadi faktor penting agar angkutan umum dapat menjadi bagian dari kebutuhan mobilitas warga sehari-hari. (*istimewa)
Temukan Berita terbaru kami di Zona Ponti
Website Kami

