Dampak Harga Energi Global, LPG Nonsubsidi Ikut Melonjak
WWW.ZONAPONTI.COM, NASIONAL – Kenaikan harga LPG nonsubsidi kembali menjadi perhatian publik setelah penyesuaian harga yang cukup tajam diberlakukan pada pertengahan April 2026. Gas elpiji ukuran 12 kilogram yang selama ini banyak digunakan rumah tangga kelas menengah tercatat mengalami lonjakan hampir 19 persen. Dampaknya pun langsung terasa, bukan hanya di angka-angka, tetapi pada keseharian masyarakat.
Di sejumlah daerah, harga LPG 12 kilogram kini bergerak di kisaran Rp220 ribu hingga Rp230 ribu per tabung, bahkan bisa lebih tinggi di tingkat pengecer. LPG ukuran 5,5 kilogram pun ikut terdorong naik. Kondisi ini membuat banyak keluarga harus kembali menghitung ulang pengeluaran bulanan mereka, terutama untuk kebutuhan dapur yang tidak bisa ditunda.
Tekanan paling terasa dialami pelaku usaha kecil. Warung makan, pedagang gorengan, hingga usaha rumahan mulai merasakan kenaikan biaya produksi. Sebagian memilih menahan harga agar tidak kehilangan pelanggan, sementara lainnya terpaksa menaikkan harga jual meski berisiko sepi pembeli. Situasi ini memperlihatkan bagaimana satu kebijakan energi dapat menjalar ke berbagai sektor ekonomi kecil.
Di balik kenaikan tersebut, faktor global menjadi pemicu utama. Harga minyak dunia yang terus bergerak naik akibat ketegangan geopolitik dan gangguan distribusi energi internasional ikut mendorong biaya LPG. Ketergantungan Indonesia terhadap impor energi membuat fluktuasi global langsung berimbas ke dalam negeri.
Di tengah kondisi itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia turut memberikan penjelasan terkait kebijakan tersebut. Ia menegaskan bahwa LPG nonsubsidi, khususnya ukuran 12 kilogram, memang diperuntukkan bagi kelompok masyarakat yang tergolong mampu. Menurutnya, penyesuaian harga pada segmen ini seharusnya tidak menjadi persoalan besar.
Bahlil juga menekankan bahwa negara tetap hadir untuk melindungi masyarakat yang membutuhkan. Ia menyebut prioritas utama pemerintah adalah menjaga keterjangkauan energi bagi kelompok berpenghasilan rendah. “Kalau yang subsidi tetap, saya hanya bisa menjamin harga subsidi,” ujarnya menegaskan bahwa LPG 3 kilogram tidak mengalami kenaikan karena merupakan bagian dari kebijakan perlindungan sosial.
Lebih lanjut, ia mengingatkan agar masyarakat mampu tidak menggunakan LPG subsidi yang diperuntukkan bagi kelompok rentan. Kebijakan ini sekaligus menjadi upaya pemerintah untuk memastikan subsidi tepat sasaran, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh yang berhak.
Meski demikian, di lapangan kondisi tidak selalu sesederhana pembagian kategori mampu dan tidak mampu. Banyak rumah tangga yang berada di tengah dan tidak tergolong miskin, namun juga tidak sepenuhnya kuat secara ekonomi, justru menjadi kelompok yang paling merasakan tekanan. Kenaikan harga LPG nonsubsidi bagi mereka berarti harus memangkas kebutuhan lain.
Sejumlah warga mulai menyiasati situasi dengan berbagai cara. Ada yang mengurangi frekuensi memasak, beralih ke ukuran tabung yang lebih kecil, hingga berbagi penggunaan gas dengan anggota keluarga lain. Di sisi lain, kekhawatiran juga muncul terkait potensi meningkatnya penggunaan LPG subsidi oleh kelompok yang sebenarnya tidak berhak.
Pemerintah sendiri memastikan bahwa stok LPG nasional dalam kondisi aman meski masih bergantung pada impor. Koordinasi dengan berbagai pihak terus dilakukan untuk menjaga pasokan tetap tersedia di tengah tekanan global. Hal ini menjadi penting agar kenaikan harga tidak diikuti oleh kelangkaan barang di lapangan.
Kenaikan LPG nonsubsidi kali ini menjadi gambaran nyata bagaimana dinamika global dapat berimbas langsung ke kehidupan masyarakat. Dari dapur rumah tangga hingga usaha kecil, semuanya ikut terdampak. Tantangan ke depan bukan hanya soal menjaga pasokan, tetapi juga memastikan kebijakan energi tetap berimbang, antara mengikuti mekanisme pasar dan melindungi daya beli masyarakat. (*cj)
Temukan Berita terbaru kami di Zona Ponti
Website Kami

