Sejumlah warga mengaku kaget dengan kenaikan harga yang mencapai Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per tabung. Bagi rumah tangga yang setiap hari bergantung pada elpiji untuk memasak, kondisi ini tentu bukan hal sepele. Pengeluaran yang biasanya masih bisa diatur, kini terasa semakin berat.
“Biasanya masih cukup, sekarang harus lebih hemat lagi. Mau tidak mau dikurangi pemakaian,” ujar seorang ibu rumah tangga. Hal serupa juga dirasakan para pelaku usaha kecil seperti pedagang gorengan, warung kopi, hingga penjual nasi. Mereka mulai menghitung ulang biaya produksi karena harga gas yang naik berdampak langsung pada keuntungan.
Di tingkat pengecer, kenaikan ini disebut-sebut berkaitan dengan meningkatnya biaya distribusi pasca penyesuaian harga BBM oleh Pertamina. Ongkos angkut yang lebih tinggi membuat harga jual ikut terdorong naik sebelum sampai ke tangan konsumen.
Situasi ini membuat warga berharap ada perhatian dan langkah cepat dari pemerintah, baik dalam bentuk pengawasan harga maupun memastikan pasokan tetap lancar. Sebab, jika harga elpiji terus merangkak naik, dikhawatirkan akan memicu kenaikan harga kebutuhan lain yang semakin menekan ekonomi masyarakat.
Bagi banyak warga, kenaikan ini bukan sekadar angka, tetapi soal bagaimana mereka harus kembali mengatur dapur agar tetap bisa mengepul di tengah kondisi yang semakin menantang. (*istimewa)