Jarak Pandang Anjlok hingga 300 Meter, Operasi Udara Karhutla Kalbar Dihentikan
WWW.ZONAPONTI.COM, KALIMANTAN BARAT – Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat menghadapi kendala serius. Kabut asap yang semakin pekat membuat seluruh operasi udara harus dihentikan sementara pada Sabtu (12/9/2026).
Bukan karena operasi penanganan karhutla dihentikan, tetapi kondisi di udara dinilai tidak lagi memenuhi standar keselamatan penerbangan. Jarak pandang yang terlalu pendek membuat penerbangan untuk pemadaman maupun modifikasi cuaca berisiko dilakukan.
Koordinator Harian Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Kalbar, Daniel, mengatakan sembilan helikopter water bombing terpaksa tetap berada di darat. Armada tersebut terdiri dari dua unit yang disiagakan di Ketapang dan tujuh unit di basecamp Pontianak.
Rencana pemadaman sebenarnya telah disiapkan untuk sejumlah wilayah yang terdampak karhutla, termasuk Ketapang, Kubu Raya, dan Sintang. Namun, penerbangan tidak dapat dipaksakan karena jarak pandang belum mencapai batas aman minimal 2.000 meter.
“Kalau dipaksakan akan menyalahi SOP dan sangat berbahaya,” ujar Daniel.
Kondisi jarak pandang yang buruk juga dirasakan langsung oleh penerbang TNI AU. Pilot Skadron 4 TNI AU, Lettu Pnb Andi Satria, menyebut jarak pandang di lapangan hanya berkisar 300 hingga 400 meter. Dalam kondisi terbaik, jarak pandang hanya sekitar 600 meter.
Situasi tersebut tidak hanya menghambat penanganan karhutla. Aktivitas penerbangan komersial dari dan menuju Bandara Supadio Pontianak juga ikut terdampak dan mengalami pembatalan.
Menurut Andi, keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan apakah sebuah penerbangan dapat dilakukan.
“Yang nomor satu adalah keselamatan,” katanya.
Misi Hujan Buatan Juga Tertunda
Kabut asap juga membuat upaya lain untuk membantu mengatasi karhutla ikut tertunda. Misi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) menggunakan pesawat Cessna 208B Grand Caravan belum dapat diterbangkan meskipun tim telah bersiaga sejak pagi.
Operator TMC dari PT Maxon Sukses Pratama yang menjadi mitra BNPB, Elma Dwi Putri Sinaga, mengatakan terdapat potensi pertumbuhan awan di wilayah Sambas yang sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk penyemaian.
Namun, kondisi jarak pandang sepanjang hari belum memungkinkan pesawat melakukan take off. Sementara itu, batas minimal yang dibutuhkan untuk lepas landas berada pada kisaran 800 hingga 1.000 meter.
Penundaan tersebut menjadi yang pertama setelah tim TMC sebelumnya dapat menjalankan operasi secara penuh selama periode 3–11 September.
Kondisi ini memperlihatkan persoalan lain dalam penanganan karhutla. Ketika asap semakin pekat, bukan hanya masyarakat yang menghadapi dampaknya, tetapi upaya pemadaman dari udara pun ikut terbatas.
Karena itu, operasi udara akan kembali dijalankan setelah kondisi penerbangan memenuhi persyaratan keselamatan. Selama jarak pandang masih berada di bawah ambang aman, memaksakan penerbangan justru dapat menimbulkan risiko baru bagi awak dan keselamatan penerbangan. (*istimewa)
Temukan Berita terbaru kami di Zona Ponti
Website Kami

