Kualitas Udara Pontianak Masih Mengkhawatirkan, Warga Diminta Waspadai Kabut Asap
WWW.ZONAPONTI.COM, PONTIANAK – Warga Kota Pontianak masih perlu mewaspadai kualitas udara pada Jumat, 11 September 2026. Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan Barat membuat kondisi udara perkotaan belum sepenuhnya aman, terutama bagi masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Data pemantauan kualitas udara menunjukkan tingkat pencemaran partikulat di Pontianak masih tinggi. Dalam pemantauan IQAir yang dikutip Reuters pada 9 September 2026, indeks kualitas udara (AQI) Pontianak bahkan sempat mencapai 394, masuk kategori berbahaya (hazardous). Angka tersebut jauh di atas ambang AQI 300 yang sudah masuk kategori berbahaya bagi kesehatan.
Kondisi tersebut berkaitan dengan meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Asap dari titik-titik kebakaran dapat terbawa angin dan menyebabkan penurunan kualitas udara di wilayah yang tidak menjadi lokasi kebakaran secara langsung.
Partikel Halus Menjadi Perhatian
Salah satu persoalan utama dari kabut asap karhutla adalah tingginya konsentrasi partikulat, terutama PM2.5 dan PM10.
PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Paparan dalam jumlah tinggi dapat menyebabkan iritasi mata dan tenggorokan, batuk, sesak napas, serta memperburuk kondisi masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan atau penyakit tertentu lainnya.
Sementara PM10 memiliki ukuran lebih besar, tetapi tetap dapat masuk ke saluran pernapasan dan menimbulkan gangguan kesehatan ketika konsentrasinya tinggi.
Karena itu, kondisi udara tidak cukup dinilai hanya dari apakah langit terlihat berkabut atau tidak. Udara yang tampak sedikit membaik secara visual belum tentu berarti konsentrasi partikulat sudah aman.
Kabut Asap Bisa Berubah Mengikuti Angin

Kondisi kabut asap di Pontianak juga dapat berubah dalam hitungan jam.
Pergerakan asap sangat dipengaruhi arah dan kecepatan angin. Pada waktu tertentu, langit dapat terlihat lebih cerah ketika asap terdorong ke wilayah lain. Namun, konsentrasi partikulat dapat kembali meningkat ketika arah angin berubah atau ketika asap dari kawasan kebakaran kembali masuk ke wilayah perkotaan.
Situasi ini membuat masyarakat perlu memperhatikan perkembangan kualitas udara secara berkala, terutama pada pagi hari dan saat jarak pandang mulai menurun.
Kondisi karhutla di Indonesia sendiri sedang menjadi perhatian serius. Data Copernicus yang dikutip Reuters menunjukkan emisi kebakaran Indonesia pada 1–7 September 2026 mencapai sekitar 19,7 juta ton CO₂, lebih dari sepertiga emisi kebakaran global pada periode tersebut. Kalimantan menjadi salah satu kawasan yang paling terdampak.
Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Rumah
Dalam kondisi udara yang buruk, masyarakat Pontianak sebaiknya mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan, khususnya ketika asap terlihat pekat atau kualitas udara menunjukkan kategori tidak sehat hingga berbahaya.
Masyarakat juga disarankan menggunakan masker yang mampu menyaring partikulat, terutama ketika harus keluar rumah. Penggunaan masker menjadi lebih penting bagi warga yang bekerja di luar ruangan seperti pengemudi ojek, pedagang kaki lima, pekerja lapangan, petugas kebersihan, dan kelompok masyarakat lainnya.
Pintu dan jendela rumah juga sebaiknya ditutup ketika asap mulai masuk ke dalam ruangan. Jika memungkinkan, masyarakat dapat menggunakan penyaring udara atau memastikan ruangan memiliki kualitas udara yang lebih baik.
Bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan, aktivitas di luar ruangan sebaiknya lebih dibatasi ketika kualitas udara memburuk.
Jangan Abaikan Gejala Gangguan Pernapasan
Paparan asap dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan berbagai keluhan, mulai dari mata perih, hidung dan tenggorokan terasa tidak nyaman, batuk, pusing hingga sesak napas.
Jika muncul keluhan pernapasan yang semakin berat, masyarakat sebaiknya segera mencari pertolongan medis dan tidak memaksakan diri beraktivitas di tengah kondisi udara yang buruk.
Kondisi kualitas udara Pontianak saat ini menjadi pengingat bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan masyarakat yang berada dekat dengan lokasi kebakaran. Asap dapat bergerak mengikuti kondisi atmosfer dan akhirnya memengaruhi kehidupan warga perkotaan.
Karena itu, selain penanganan api di lapangan, pemantauan kualitas udara dan perlindungan kesehatan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menghadapi musim karhutla di Kalimantan Barat. (*)
Temukan Berita terbaru kami di Zona Ponti
Website Kami

