Zona Ponti

Pemkot Pontianak Antisipasi El Nino 2026, Perkuat Pencegahan Karhutla, Kekeringan, dan Gagal Panen

Pemkot Pontianak memperkuat antisipasi El Nino 2026 dengan meningkatkan patroli, mencegah karhutla, mengurangi risiko kekeringan, dan melindungi ketahanan pangan warga. (*istimewa)

WWW.ZONAPONTI.COM, PONTIANAK – Pemerintah Kota Pontianak mulai memperkuat langkah antisipasi menghadapi musim kemarau dan potensi dampak fenomena El Nino. Upaya ini dilakukan untuk melindungi masyarakat dari berbagai risiko, mulai dari kekeringan, gagal panen, hingga kebakaran lahan yang dapat mengganggu aktivitas dan kesehatan warga.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, perubahan cuaca yang semakin tidak menentu harus diantisipasi sejak dini. Informasi prakiraan cuaca dan iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi acuan penting bagi pemerintah dalam menyiapkan langkah-langkah mitigasi.

“Ini khusus untuk mengantisipasi El Nino, kemarau, dan kondisi cuaca,” ujarnya usai mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah serta Sosialisasi Kesiapsiagaan Menghadapi Dampak Fenomena El Nino bersama Menteri Dalam Negeri, Senin (29/6/2026).

Berdasarkan informasi BMKG, puncak musim kemarau di Indonesia diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September 2026. Musim kemarau tahun ini juga diprediksi lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal, seiring peluang terjadinya fenomena El Nino.

BMKG memperkirakan El Nino akan bertahan hingga awal 2027 dengan peluang mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen. Dampaknya di Indonesia diperkirakan paling terasa saat memasuki puncak musim kemarau hingga pertengahan Oktober.

Edi menjelaskan, dampak El Nino tidak hanya dirasakan melalui cuaca yang lebih panas, tetapi juga berpotensi memengaruhi ketahanan pangan masyarakat. Kekeringan dapat mengurangi hasil pertanian, bahkan menyebabkan gagal panen yang berdampak pada ketersediaan bahan pangan.

“Perubahan cuaca yang tidak menentu ini bisa menyebabkan gagal panen, kemudian bencana alam. Kalau musim kemarau, pasti panas, dan panas bisa memicu kebakaran lahan,” katanya.

Karena itu, Pemkot Pontianak mulai meningkatkan langkah pencegahan, terutama di kawasan yang masih memiliki lahan gambut. Memasuki Juli, sosialisasi kepada masyarakat mengenai larangan membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar akan semakin digencarkan.

Selain itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama tim di lapangan diminta menyiapkan posko siaga dan meningkatkan patroli di wilayah yang memiliki potensi kebakaran lahan, seperti Kecamatan Pontianak Tenggara, Pontianak Selatan, dan Pontianak Utara.

“Saya minta posko tim BPBD melakukan patroli, terutama di Kecamatan Tenggara, Selatan, dan Utara yang masih ada lahan gambut,” jelasnya.

Menurut Edi, kesiapsiagaan sejak awal menjadi kunci agar kebakaran lahan tidak meluas dan dampaknya terhadap masyarakat dapat ditekan. Pencegahan yang dilakukan lebih dini dinilai jauh lebih efektif dibandingkan penanganan ketika kebakaran sudah terjadi.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk ikut menjaga lingkungan dengan tidak membuka lahan menggunakan api, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau aktivitas pembakaran yang berpotensi memicu kebakaran.

“Tim BPBD sudah siap. Yang penting mitigasi dilakukan dari sekarang,” pungkasnya. (*istimewa)

Temukan Berita terbaru kami di Zona Ponti

Website Kami

Iklan