Zona Ponti

Agus Setiadi: SPALD-T Adalah Hadiah Pembangunan Untuk Masa Depan Pontianak

Agus menilai proyek tersebut bukan sekadar pekerjaan konstruksi dan pembongkaran jalan, tetapi investasi jangka panjang untuk memperkuat sanitasi, menjaga kualitas lingkungan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Ia mengajak masyarakat tetap mengawal pelaksanaan proyek agar dampak konstruksi seperti gangguan lalu lintas dan akses usaha dapat dikelola dengan baik.

WWW.ZONAPONTI.COM, PONTIANAK – Koordinator Sentra Inovasi dan Kajian Kebijakan Publik (SIKKAP), Agus Setiadi, SE, menyatakan dukungan penuh terhadap pembangunan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) di Kota Pontianak.

Sebagai tokoh masyarakat dan Ketum POM (Persatuan Orang Melayu), Agus menilai kehadiran proyek SPALD-T merupakan momentum penting bagi Kota Pontianak untuk meningkatkan kualitas sanitasi, kesehatan lingkungan dan kualitas hidup masyarakat. Menurutnya, proyek tersebut harus dilihat sebagai bagian dari visi pembangunan kota dalam jangka panjang, bukan hanya dari dampak konstruksi yang dirasakan masyarakat dalam jangka pendek. “Saya mendukung penuh proyek SPALD-T di Kota Pontianak. Ini bukan proyek biasa. Ini merupakan prestasi dan investasi besar untuk masa depan kota, lingkungan dan masyarakat Pontianak. Jangan kita hanya melihat jalan yang dibongkar hari ini, kemacetan yang terjadi sementara, atau pekerjaan konstruksi yang mengganggu aktivitas masyarakat. Kita harus melihat apa yang sedang dibangun untuk Pontianak puluhan tahun ke depan,” tegas Agus.

APRESIASI TINGGI UNTUK WALI KOTA PONTIANAK
Agus secara khusus menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Wali Kota Pontianak, Bapak Edi Rusdi Kamtono, yang dinilainya telah berhasil membawa perubahan signifikan terhadap wajah Kota Pontianak.

Menurut Agus, pembangunan Kota Pontianak dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan arah yang semakin maju, tertata dan modern. Ia menilai pembangunan infrastruktur, penataan kawasan kota, peningkatan kualitas ruang publik serta berbagai program pembangunan lainnya telah memberikan perubahan nyata terhadap wajah Pontianak. “Saya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Bapak Edi Rusdi Kamtono selaku Wali Kota Pontianak. Kita harus objektif melihat perubahan Kota Pontianak. Kota ini semakin maju, semakin tertata dan semakin memiliki wajah kota yang jauh lebih baik. Tentu masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, tetapi capaian pembangunan yang sudah dilakukan juga harus kita akui dan apresiasi,” ujar Agus.

Menurutnya, keberhasilan menghadirkan proyek SPALD-T dalam skala besar juga merupakan salah satu capaian luar biasa dalam kepemimpinan Bapak Wali Kota Edi Rusdi Kamtono. Agus menilai tidak mudah bagi sebuah kota untuk mendapatkan kepercayaan pemerintah pusat dalam menghadirkan proyek infrastruktur sanitasi dengan nilai investasi yang sangat besar ini. “SPALD-T ini menurut saya merupakan salah satu capaian luar biasa Pemerintah Kota Pontianak. Karena untuk mendapatkan proyek sebesar ini tentu tidak cukup hanya dengan mengajukan proposal. Ini perjuangan yang luar biasa dan tidak mudah karena proses yang panjang dan penilaian yang luar biasa ketat dengan segala macam persyaratan, capaian, kesiapan daerah dan ada kepercayaan pemerintah pusat. Dan akhirnya Kota Pontianak berhasil mendapatkan proyek ini dengan nilai paling besar 1,7 Triliyun,” ungkapnya dengan nada bangga.

Ia menambahkan, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa Pontianak mampu bersaing dengan ratusan kota lain di Indonesia dalam mendapatkan perhatian dan dukungan pembangunan dari pemerintah pusat. “Ini bukti bahwa Pontianak merupakan kota yang mampu menunjukkan kapasitasnya untuk bersaing dengan kota-kota lain di Indonesia. Bahkan ketika pemerintah pusat membuka kesempatan pembangunan, Pontianak mampu masuk dan mendapatkan proyek strategis SPALD-T ini dengan nilai fantastis. Ini capaian luar biasa yang patut segenap masyarakat apresiasi,” tegas Agus.

SPALD-T ADALAH PRESTASI PEMBANGUNAN, BUKAN SEKADAR PROYEK GALIAN JALAN
Agus mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak pada cara pandang sempit dalam melihat proyek SPALD-T yang digaungkan oknum atau pihak tertentu. “Jangan sampai kita melihat SPALD-T hanya sebagai proyek yang membongkar jalan. Jalan itu nanti akan ditutup dan dikembalikan. Tetapi sistem sanitasi yang dibangun akan digunakan masyarakat berpuluh tahun kedepan. Jadi mari kita bedakan antara dampak pembangunan yang sifatnya sementara dengan manfaat pembangunan yang sifatnya jangka panjang,” jelasnya.

Proyek ini memiliki tantangan teknis yang tidak sederhana. Jaringan pipa harus ditanam pada kedalaman sekitar 6 hingga 12 meter dengan pekerjaan yang dilakukan secara bertahap pada 20 ruas jalan di Kota Pontianak, dari Martapura (Tanjungpura) sampai ke Nipah Kuning (jeruju). Karena itu, Agus menilai masyarakat harus memahami bahwa pembangunan infrastruktur dengan skala seperti ini memang membutuhkan waktu dan tahapan. “Kalau pipanya harus ditanam sampai 6–12 meter, tentu pekerjaannya tidak mungkin seperti menggali saluran biasa. Ada persoalan teknis, kondisi tanah, keselamatan kerja dan rekayasa konstruksi yang harus diperhitungkan. Karena itu masyarakat harus diberikan penjelasan yang benar,” ujarnya.
Ia menilai durasi pekerjaan hingga 2030 juga harus dipahami sebagai tahapan pembangunan besar yang membutuhkan waktu. “Kalau sebuah proyek sebesar ini ditargetkan selesai bertahap sampai 2030, jangan kita berpikir bahwa seluruh Pontianak akan dibongkar sekaligus. Pekerjaannya bertahap, ada metode, ada perencanaan dan ada pengaturan teknis. Yang harus kita kawal adalah bagaimana dampaknya dikelola dengan baik, bukan dengan mencari atau membesarkan masalah,” tegas Koordinator SIKKAP ini.

PROYEK SPALD-T BUKAN DARI APBD KOTA TAPI APBN MURNI
Agus juga meminta agar masyarakat memahami skema pembiayaan SPALD-T secara utuh. Menurutnya, proyek ini merupakan murni dukungan APBN bukan proyek yang bersumber dari APBD Kota Pontianak. Pemerintah Kota Pontianak, menurut Agus, berperan sebagai penerima manfaat dan memberikan dukungan non-budgeting untuk membantu kelancaran pelaksanaan proyek SPALD-T. “Ini juga harus diluruskan. Jangan sampai masyarakat berpikir bahwa proyek sebesar ini membebani APBD Kota Pontianak apalagi ditengah era efisiensi dan pemotongan anggaran oleh pemerintah pusat. Pemerintah Kota justru berhasil membawa masuk dukungan pembangunan dari pemerintah pusat. Bagi saya, ini sebuah keberhasilan luar biasa yang harus diapresiasi,” katanya.

Agus menilai kemampuan pemerintah daerah mendatangkan dukungan pembangunan berskala besar merupakan salah satu indikator penting keberhasilan pemerintahan. “Kalau pemerintah kota mampu menghadirkan proyek pembangunan bernilai besar dengan dukungan pemerintah pusat, tentu itu harus dilihat sebagai sebuah capaian. Kita harus bangga bahwa Pontianak dipercaya untuk mendapatkan pembangunan seperti ini,” tambahnya.

KRITIK BOLEH TAPI HARUS OBJEKTIF
Agus mengatakan dirinya menghormati keberadaan LSM yang menjalankan fungsi kontrol sosial. Namun ia mengingatkan bahwa kritik terhadap pembangunan harus disampaikan berdasarkan fakta, data dan pemahaman terhadap keseluruhan proyek. “Saya menghormati teman-teman LSM. Kritik itu penting. Kontrol sosial itu penting. Tetapi kritik harus objektif. Jangan sampai masyarakat hanya diberikan informasi mengenai dampak negatifnya, sementara manfaat dan konteks pembangunan secara keseluruhan tidak dijelaskan,” tegas Ketum Persatuan Orang Melayu (POM) ini.

Ia menilai apabila ada persoalan di lapangan, seperti kemacetan, akses usaha terganggu, kerusakan fasilitas warga atau kurangnya sosialisasi, maka persoalan tersebut harus disampaikan kepada pemerintah dan pelaksana untuk diperbaiki. “Kalau ada kemacetan, kita minta rekayasa lalu lintas diperbaiki. Kalau ada akses rumah atau toko terganggu, minta kontraktor memastikan akses tetap tersedia. Kalau ada kerusakan akibat pekerjaan, harus ada mekanisme penyelesaian. Kalau sosialisasinya kurang, perbanyak sosialisasi. Itu namanya mengawal pembangunan,” ujar Agus.

Menurutnya, mengkritisi pelaksanaan tidak sama dengan menolak tujuan pembangunan. “Saya ingin garis bawahi : kita bisa mengkritisi pelaksanaannya tanpa harus menolak proyeknya. Jangan karena ada persoalan selama konstruksi, kemudian proyeknya dianggap buruk. Itu cara berpikir yang tidak waras dan tak proporsional,” katanya.

Agus mengakui bahwa pembangunan SPALD-T pasti memberikan dampak terhadap aktivitas masyarakat. “Pembangunan memang tidak selalu nyaman. Kadang-kadang kita harus rela mengalami ketidaknyamanan hari ini untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik di masa depan. Semua proyek pembangunan skala besar di Kota dan negara manapun pasti akan menimbulkan ketidaknyamanan dan gangguan lalu lintas. Yang penting pemerintah dan kontraktor jangan abai terhadap masyarakat yang terdampak,” ujarnya.

Ia juga meminta masyarakat memberikan kesempatan kepada pemerintah dan pelaksana untuk menyelesaikan proyek tersebut sesuai tahapan yang telah direncanakan hingga 2030. “Jangan kita wariskan kepada generasi berikutnya persoalan sanitasi hanya karena generasi hari ini tidak mau mengalami sedikit ketidaknyamanan. Justru tugas kita adalah membangun fondasi kota yang lebih sehat untuk anak cucu kita di masa depan,” katanya.

KOTA PONTIANAK NAIK KELAS
Agus menilai pembangunan SPALD-T menunjukkan bahwa Pontianak sedang bergerak menuju standar pengelolaan kota yang lebih modern. Sanitasi, menurutnya, merupakan bagian penting dari kota modern yang tidak boleh lagi dianggap sebagai persoalan sekunder. “Kalau kita ingin Pontianak menjadi kota yang maju, maka jangan hanya membangun jalan dan mempercantik ruang publik. Sistem sanitasi juga harus dibangun. Kota yang modern bukan hanya kota yang indah dilihat, tetapi juga kota yang mampu mengelola limbah, menjaga lingkungan dan memberikan kehidupan yang sehat bagi masyarakatnya,” jelas Agus.

Karena itu, ia kembali memberikan apresiasi kepada Wali Kota Edi Rusdi Kamtono beserta jajaran Pemerintah Kota Pontianak. “Saya sebagai Koordinator SIKKAP, tokoh masyarakat dan Ketua POM memberikan apresiasi kepada Bapak Edi Rusdi Kamtono. Kita harus memberikan penghargaan atas keberhasilan pemerintah kota membawa Pontianak masuk ke dalam pembangunan berskala besar seperti ini. Ini bukan hanya tentang pemerintahan hari ini, tetapi tentang warisan pembangunan untuk masa depan Pontianak yang lebih maju dan lebih baik,” tuturnya.

DUKUNG PEMKOT, KAWAL PELAKSANAANNYA
Meski memberikan dukungan penuh, Agus menegaskan bahwa dukungan tersebut bukan berarti memberikan “cek kosong” kepada pemerintah maupun kontraktor. Ia meminta tiga hal tetap menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan proyek.
Pertama, transparansi. Masyarakat harus mengetahui tahapan, lokasi, jadwal, metode pekerjaan dan mekanisme sambungan rumah.
Kedua, perlindungan masyarakat. Setiap dampak terhadap rumah, tempat usaha, akses jalan maupun fasilitas umum harus ditangani secara bertanggung jawab.
Ketiga, komunikasi publik. Pemerintah dan pelaksana harus aktif memberikan informasi dan membuka ruang pengaduan masyarakat. “Saya mendukung proyeknya, tetapi saya juga meminta pelaksanaannya berpihak kepada masyarakat. Pemerintah harus terus hadir. Kontraktor harus profesional. Masyarakat harus diberikan informasi. Dan seluruh elemen masyarakat, termasuk LSM, harus ikut mengawasi secara objektif,” tegas Agus.

Agus mengajak seluruh masyarakat Pontianak untuk menjaga kepercayaan pemerintah pusat dan bersama-sama mengawal proyek tersebut sampai selesai. “Kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan berbeda tujuan. Tujuan kita sama, yaitu Pontianak yang lebih maju, sehat, bersih, tertata dan nyaman. Pemerintah membangun, masyarakat mengawasi, kontraktor melaksanakan dengan baik, dan organisasi masyarakat memberikan kontrol yang objektif. Kalau itu kita lakukan bersama, SPALD-T akan menjadi salah satu warisan pembangunan penting bagi Kota Pontianak,” pungkasnya.

Temukan Berita terbaru kami di Zona Ponti

Website Kami

Iklan