Zona Ponti

Bara Tersembunyi di Gambut Jadi Tantangan, Mampukah Helikopter Jepang Bantu Padamkan Karhutla Kalbar

Helikopter CH-47 Chinook Jepang disiapkan untuk membantu operasi waterbombing dalam penanganan karhutla di Kalimantan Barat.

WWW.ZONAPONTI.COM, KALIMANTAN BARAT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat tidak mudah ditangani. Api yang membakar kawasan gambut memiliki karakter berbeda dengan kebakaran di lahan biasa karena bara dapat bertahan di bawah permukaan tanah meski api di atasnya terlihat sudah padam.

Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar. Petugas tidak hanya harus mengejar api yang terlihat, tetapi juga memastikan panas dan bara yang berada di dalam lapisan gambut benar-benar hilang.

Salah satu upaya yang selama ini dilakukan adalah pemadaman melalui udara atau waterbombing. Pesawat maupun helikopter menjatuhkan air langsung ke kawasan yang terbakar untuk membantu menekan kobaran api.

Namun, metode tersebut memiliki tantangan ketika diterapkan pada lahan gambut.

Air yang dijatuhkan dari udara dapat membantu membasahi dan mendinginkan permukaan lahan, tetapi tidak selalu mampu menjangkau bagian gambut yang terbakar jauh di bawah permukaan. Bara yang masih tersimpan kemudian berpotensi kembali memicu api ketika kondisi lahan mengering.

Persoalan inilah yang membuat penanganan karhutla gambut tidak bisa hanya mengandalkan pemadaman dari udara.

Helikopter Jepang Perkuat Pemadaman dari Udara

Ilustrasi : Tiga helikopter Chinook Jepang menjadi tambahan kekuatan pemadaman karhutla Kalbar dari udara di tengah sulitnya memadamkan bara yang tersimpan di bawah permukaan gambut.

Di tengah tantangan tersebut, dukungan internasional datang dari Jepang. Pemerintah Jepang mengirim tiga helikopter CH-47 Chinook untuk membantu penanganan karhutla di Kalimantan Barat.

Bantuan tersebut menjadi tambahan kekuatan bagi operasi pemadaman, khususnya dalam menjangkau kawasan kebakaran yang sulit diakses melalui jalur darat. Operasi bantuan helikopter tersebut direncanakan mulai berjalan pada September 2026.

Kehadiran helikopter berkapasitas besar itu tentu menjadi harapan untuk mempercepat penanganan titik-titik kebakaran. Dari udara, lokasi yang sulit dijangkau petugas dapat memperoleh dukungan pemadaman secara lebih cepat.

Namun, tantangan utama karhutla gambut tetap berada di bawah permukaan.

Artinya, waterbombing dari helikopter Jepang bukan berarti persoalan karhutla gambut otomatis selesai. Dukungan dari udara dapat menjadi bagian penting untuk menekan kobaran dan mendinginkan area terdampak, tetapi penanganan di darat tetap diperlukan untuk memastikan bara yang tersisa di dalam gambut benar-benar padam.

Api Padam di Atas, Bara Bisa Bertahan di Bawah

Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan terdampak, persoalan terbesar bukan hanya kobaran api yang terlihat.

Asap yang muncul dari kebakaran gambut dapat mengganggu aktivitas warga. Jalan dan lingkungan permukiman bisa diselimuti asap, sementara masyarakat harus mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk.

Karena itu, keberhasilan penanganan karhutla tidak semata-mata dilihat dari hilangnya api di permukaan.

Petugas perlu memastikan kawasan yang telah dipadamkan tidak kembali terbakar. Pendinginan, penyisiran titik api, pemantauan ulang serta penanganan bara di bawah permukaan menjadi bagian penting setelah pemadaman dari udara dilakukan.

Dalam konteks ini, bantuan tiga helikopter Jepang dapat dilihat sebagai penguatan kemampuan pemadaman, bukan satu-satunya solusi.

Kombinasi antara kekuatan udara dan penanganan langsung di lapangan menjadi penting. Helikopter membantu menjangkau serta membasahi kawasan terbakar, sedangkan tim darat memastikan titik-titik bara yang tersembunyi di dalam gambut dapat ditemukan dan dipadamkan.

Bagi masyarakat Kalimantan Barat, yang paling diharapkan bukan sekadar api terlihat padam dari udara, tetapi karhutla benar-benar berhenti dan asap tidak kembali mengganggu kehidupan sehari-hari.

Dengan karakter lahan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan, penanganan harus dilakukan sampai tuntas. Sebab, api yang tampak kecil atau bahkan sudah tidak terlihat sekalipun belum tentu berarti kebakaran telah benar-benar selesai. (*)

Temukan Berita terbaru kami di Zona Ponti

Website Kami

Iklan