Zona Ponti

Kisah di Balik 100 Kali Donor Darah, Warga Pontianak Dianugerahi Penghargaan PMI

63 Pahlawan Kemanusiaan Terima Penghargaan dari PMI Pontianak (*istimewa)

WWW. ZONAPONTI.COM, PONTIANAK – Sebanyak 63 pendonor darah di Kota Pontianak menerima penghargaan dari Palang Merah Indonesia (PMI) setempat setelah tercatat telah lebih dari 100 kali mendonorkan darah. Penghargaan berupa pin emas tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kontribusi panjang mereka dalam aksi kemanusiaan.

Capaian itu tidak diraih dalam waktu singkat. Untuk bisa mencapai 100 kali donor, para pendonor harus menjaga kondisi kesehatan serta konsistensi selama puluhan tahun, bahkan hingga tiga dekade.

Salah satu penerima penghargaan, Zulfydar Zaidar, mengisahkan awal perjalanannya menjadi pendonor. Ia mulai mendonorkan darah saat masih berstatus mahasiswa di Jakarta pada era 1990-an. Pengalaman itu bermula dari situasi sederhana, ketika seorang seniornya membutuhkan donor darah untuk sang istri yang tengah sakit.

“Dari situ saya mulai sadar bahwa membantu orang lain bisa dilakukan dengan cara yang sederhana,” ujarnya.

Ia mengakui, pengalaman pertama mendonorkan darah tidak lepas dari rasa takut. Namun, kondisi tersebut justru mendorongnya untuk melihat makna yang lebih dalam tentang kepedulian terhadap sesama.

Pada masa itu, ia hidup dalam keterbatasan sebagai mahasiswa dengan kiriman orang tua sekitar Rp400 ribu per bulan. Ia harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di tengah kondisi tersebut, ia menyadari bahwa berbagi tidak selalu harus dalam bentuk materi.

Seiring waktu, donor darah menjadi bagian dari prinsip hidupnya. Ia memandang bahwa setiap tetes darah yang disumbangkan memiliki nilai kemanusiaan yang besar karena dapat membantu menyelamatkan nyawa orang lain.

Sementara itu, Wali Kota Pontianak sekaligus Ketua PMI Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menegaskan bahwa para pendonor layak disebut sebagai pahlawan kemanusiaan karena kontribusi mereka berdampak langsung pada keselamatan jiwa.

“Secara akumulatif, seorang pendonor 100 kali telah menyumbang sekitar 30 liter darah. Diperkirakan telah menolong dan menyelamatkan 100 hingga 200 jiwa,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa kebutuhan darah di Kota Pontianak masih cukup tinggi. Dalam sehari, kebutuhan mencapai sekitar 100 hingga 150 kantong, sementara ketersediaan rutin baru berkisar antara 70 hingga 100 kantong per hari.

“Kekurangan stok darah selama ini diatasi dengan menghubungi para pendonor yang datanya sudah dimiliki PMI, termasuk sukarelawan maupun keluarga pasien yang membutuhkan dalam kondisi mendesak,” jelasnya.

Edi mengakui PMI Kota Pontianak masih menghadapi sejumlah keterbatasan, baik dari sisi teknis maupun administrasi. Karena itu, pihaknya terus melakukan pembenahan, termasuk upaya penyediaan sarana dan prasarana yang lebih memadai.

“Nah ini sedang kita usahakan ke depan untuk kita bangun laboratorium tersendiri,” tambahnya.

Ia turut menyampaikan apresiasi kepada para pendonor atas dedikasi yang telah diberikan selama ini.

“Saya tidak bisa lagi berkata-kata membalas Bapak-Ibu atas jasa kemanusiaan ini. Tidak ada kata-kata yang bisa diucapkan selain mudah-mudahan Bapak-Ibu diberikan kesehatan dan pahala yang setimpal,” ungkapnya.

Menurutnya, penghargaan berupa pin emas bukan sekadar simbol, melainkan bentuk terima kasih dari masyarakat yang telah merasakan langsung manfaat dari donor darah.

“Pin emas ini membuktikan bahwa saya mewakili warga yang telah mendapatkan darah dari Bapak-Ibu selama ini, yang telah terselamatkan. Mudah-mudahan ini menjadi amal jariah yang terus mengalir sepanjang masa,” pungkasnya. (*istimewa)

Temukan Berita terbaru kami di Zona Ponti

Website Kami

Iklan